Cukup
lama kami berlari kaki kanan gadis ini malah terkilir, mau tidak mau kita harus
mencari tempat persembunyian. Untungnya didekat sini ada sebuah rumah kosong
tak berpenghuni, jadi kami bisa bersembunyi disana sementara aku mengobati
lukanya. Aku menyenderkan gadis itu ke sebuah papan. Ketika aku ingin
membenarkan posisi senderannya, tak sengaja tanganku terpeleset dan malah membuat
beberapa tumpukan kayu dibelakang terjatuh. Belum sempat aku bangun, terdengar
suara langkah kaki masuk kedalam rumah. Degup jantungku kian meningkat. Tangan
kiriku berusaha untuk menutup mulut gadis itu. Apa yang harus kulakukan? Apa
ini akan berakhir?
Meoooonngggg..
Seekor
kucing mendekatiku. Seketika lampu diatas kepalaku menyala. Kubuka kotak
bekalku yang kubawa dari kosan, kulemparkan potongan ikan kearah persimpangan
antar ruangan. Kucing itu segera berlari dan memakannya.
“Astaga, ternyata hanya seekor
kucing. Kukira apa tadi.” Ia kemudian berlalu keluar.
“Kelihatannya sudah aman. Saatnya pergi sebelum
dia menyadari kesalahanku yang melemparkan ikan goreng penuh.” Batinku.
Aku
menggendongnya keluar melalu pintu samping.
Tak
lama setelah keluar. Pria tadi baru sadar akan sebuah kejanggalan.
“Tunggu tunggu.. Didalam rumah
kosong yang sudah tak berpenghuni kenapa
ada seekor kucing yang memakan ikan goreng utuh? Sialan aku tertipu!”
Laki
laki itu kembali kedalam rumah kosong dan mendapati tidak ada siapa siapa didalam.
Kemudian ia melihat sebuah pintu lain di dekat kucing tadi.
“Sial aku tidak bisa berlari dengan
keadaan begini. Dan lagi, aku tidak tahu ini dimana dan akan kemana.” Batinku.
Didepan
ada sebuah pertigaan yang cukup ramai kendaraan, mungkin disana ada bantuan.
Keluar dari gang sempit tadi aku menemukan daerah yang tidak asing. Daerah sekitar kampus fakultas kedokteran. Kebetulan sekali didepan ada angkot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar