"Merpati terbang tinggi, angin pagi berhembus perlahan." Gayaku membaca puisi menirukan Taufik Ismail.
"Untuk kamu yang slalu dihati, ketahuilah cintaku masih bertahan." Lanjutku sambil menyengir. Belum selesai menyengir, Erik langsung memukul kepalaku."
PLAAKKK...
"Itu pantun bodoh! Bukan puisi! Dasar bedebah!" Makinya padaku.
"Yaelah maklum kan gue bukan sastrawan, gue bukan pujangga, gue juga bukan wonderwomanmu." Alibiku.
"Puisi bukan begitulah. Sini gue ajarin." Dia meraih pensil dan bukuku. Aku hanya menonton. Bocah ini terlihat jago menggoreskan pensil.
"Nih gue bacain. Kata pepatah cinta itu buta. Namun aku tak pernah percaya. Bukan cinta yang membuatnya buta. Nafsulah yang menyesatkannya. Kata orang bulan itu indah. Namun aku tak pernah percaya. Bukan bulan yang membuat malam ini indah. Senyummulah yang memancarkannya." Ucap Erik membaca tulisannya.
"Woaaahhhh.. Ajari saya mastah.. Biarkan aku jadi muridmu." Rengekku.
"Gabisa, hari ini gue ada acara. Lu buat puisi sendiri. Goodluck Cir, gue pulang dulu." Ucapnya sambil meninggalkan kosan.
Aku yang bingung terpaksa menulis sendiri. Seadanya.
Esoknya puisi yang kutulis sudah jadi. Pidato yang akan kusampaikan dihadapan Franda pun sudah siap. Tinggal eksekusinya di sore hari nanti. Temanku Rein bertugas mengikuti semua kegiatan Franda hari ini. Dan Erik bertugas mengarahkan Franda ketempat yang sudah kita sepakati.
Sore hari tiba. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi seluruh bagian tubuh. Aku tidak fokus. Erik mengirim pesan singkat. Katanya Franda sudah dekat dengan lokasi. Aku mencium baunya. Dia tepat dibelakangku. Dengan perasaan nervous yang luar biasa aku membalikkan badanku dan berlutut sembari menyodorkan beberapa bunga. Aku yang nervous dan tak tau harus apa langsung membuka suara.
"Assalamualaikum." Kataku.
"Eh, maksudnya bungaku. Bintang memang tak seterang rembulan. Kadang muncul kadang juga libur. Abang tukang bakso memang menjual ayam. Sabun di kamar mandi siapa yang habiskan. Jika itu kamu tolong katakan." Aku malah membaca puisinya dan lupa mengatakan pidatonya.
Aku yang malu tidak berani membuka mata sampai akhirnya dia menggenggam bahuku dan membantuku berdiri. Perlahan aku memberanikan diri membuka mata. Aku shock. Didepanku bukan Franda Melainkan Bu Erlina dosen killer di jurusanku.
"Kuncoro, nilai kamu di mata kuliah saya itu selalu D tapi kenapa kamu masih sempat melakukan hal bodoh seperti ini. Saya tau kamu bodoh tapi saya tidak menyangka kalau otak kamu bahkan terjun bebas ke dasar jurang." Celoteh ibu Erlina memarahiku.
Kulihat semua orang mentertawaiku. Termasuk Franda yang berada tidak jauh di belakang Bu Erlina. Aku sangat malu sampai tak bisa berkata apa apa. Erik yang ada disebelah Franda menepok jidatnya.
"Dan lagi puisi kamu itu sampah! Lebih baik kamu belajar yang giat agar tahun depan ibu tidak bertemu lagi denganmu." Lanjutnya sambil berlalu menjauh.
Aku yang terlanjur malu segera kabur dengan seribu langkah. Rasanya aku mau mati saja hari ini. Tapi aku belum menyerah. Besok akan kucoba lagi.
(Episode 1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar