Hari ini aku pulang malam, seharian aku mengunjungi kota Depok dan Tangerang untuk menghadiri Seminar Kepenulisan. Untungnya, sampai rumah ada istriku yang menyambut dengan hangat ditengah rasa lelahku.
"Assalamualaikum.warrahmatullahi.wabarrakatuh." Ucapku berdiri didepan pintu.
"Waalaikumsalam.warrahmatullahi.wabarrakatuh." Jawab istriku sambil membukakan pintu.
"Eh mas sudah pulang, sini biar tasnya aku bantu bawa." Lanjut istriku mendekat kearahku.
Kukecup keningnya manja. Lalu berkata,
"Ah tidak usah biar aku saja yang bawa. Istriku masak apa hari ini." Aku melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.
"Hari ini aku masak sayur asem dan ikan bandeng." Balasnya.
Mendengar jawaban itu seketika hatiku berkata,
Aduh, lauknya begitu lagi, dia kan tau aku tidak suka bandeng ditambah lagi ada sayur asem. Sudah tiga hari ini dia masak sayur asem, bosan! Lagipula, ia sedang dalam tahap belajar memasak.
Teriakku dalam hati. Belum selesai aku mengeluh, tiba-tiba ia mengagetkanku.
"Mas mau makan sekalian? Biar aku ambilkan."
"Tidak.. tidak usah. Nanti biar aku ambil sendiri. Aku mau mandi dulu, gerah!" Balasku mengalihkan pembicaraan.
"Yasudah mandi dulu, sebentar aku ambilkan handuknya di lemari." Ucapnya lembut sambil tersenyum kearahku.
Aduh biyung! Senyumnya itu yang membuatku jatuh hati padanya. Manis nian, semanis arumanis yang biasa dijual di depan SD. Ingin hati memeluknya dan berlanjut ke tahap selanjutnya, tapi badanku bau. Aku balas tersenyum dan bergegas ke kamar mandi.
Kupanaskan water heater dan kuunyalakan shower yang memancur dari langit langit. Belum sempat membilas badan dengan air, istriku memanggil dari luar.
"Mas, ini handuknya!" Teriaknya dari balik pintu.
Aku mengambil gagang pintu lalu membukanya sedikit.
"Adek mau mandi sekalian?" rayuku.
"Tidak mas, aku sudah mandi tadi. Lagipula sebentar lagi aku mau arisan di rumah Bu Hindun." balasnya menolak.
"Yasudah aku mandi dulu." balasku kecewa. Ia hanya mengangguk lalu pergi.
Selesai mandi aku menuju kamar. Istriku terlihat sedang berdandan di depan meja riasnya. Aku menggodanya sedikit.
"Dek, nanti malam itu ya. Biasa."
"Iya mas, tapi sepulang adek arisan ya." balasnya meyakinkanku.
"Janji lho!" kataku sambil mengambil jari telingking.
"Iya."
Setelah berganti pakaian aku keluar kamar menuju ruang tamu untuk menonton televisi. Tak lama adek keluar dari kamar. Aku yang melihatnya seketika takjub.
"Masya Allah, istriku ini cantiknya macam bidadari saja! Tak main main cantiknya adek ini." Logat Batakku mulai keluar. Padahal aku orang Jawa asli.
"Hahaha.. Mas bisa saja. Bukannya setiap hari adek berdandan seperti ini, kenapa baru sekarang memuji?" balik ia bertanya.
"Kan malam ini mas ada maunya." ucapku sambil tertawa.
"Yasudah malam ini tidak jadi saja." balasnya menantang.
"Yah, jangan dong." rengekku seperti bayi.
"Iya iya, adek berangkat arisan dulu ya mas. Assalamualaikum." pamitnya.
"Oh iya di meja makan ada ubi rebus juga kalau mas mau habiskan saja, toh itu tinggal dua." lanjutnya.
"Waalaikumsalam." sisanya aku hanya mengangguk.
Ubi? Apa adek tak paham betul seleraku? Aku tidak suka ubi. Kata orang, itu bisa membuat kentut kita menjadi bau. Tapi kalau dipikir pikir kentut kan memang bau. Ahsudahlah aku malah melantur.
batinku dalam hati.
Adek sudah pergi. Perutku lapar, tapi tidak ada yang bisa aku makan. Bandeng aku tidak suka karena banyak durinya. Aku punya banyak pengalaman buruk dengan duri. Lagi sayur asem, sudah tiga hari aku memakannya. Ubi tentu saja tidak. Aku berjalan menuju dapur dan membuka lemari kayu atas dibelakang kompor.
Taraaaaaaa...... Taraaaaaa.... Hueeeeeee.....
Seolah ada cahaya yang keluar dari lemari. Kulihat beberapa tumpukan makanan diantara cahaya yang keluar. Mie Instant. Ini yang aku cari. Segera kuraih satu bungkus mie instant didalam lemari. Kuambil satu buah panci dari rak sebelahnya lalu kuiisi dengan air.