Selasa, 31 Oktober 2017

Gara-Gara Indomie

Hari ini aku pulang malam, seharian aku mengunjungi kota Depok dan Tangerang untuk menghadiri Seminar Kepenulisan. Untungnya, sampai rumah ada istriku yang menyambut dengan hangat ditengah rasa lelahku.

"Assalamualaikum.warrahmatullahi.wabarrakatuh." Ucapku berdiri didepan pintu.

"Waalaikumsalam.warrahmatullahi.wabarrakatuh." Jawab istriku sambil membukakan pintu.

"Eh mas sudah pulang, sini biar tasnya aku bantu bawa." Lanjut istriku mendekat kearahku.
Kukecup keningnya manja. Lalu berkata,

"Ah tidak usah biar aku saja yang bawa. Istriku masak apa hari ini." Aku melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.

"Hari ini aku masak sayur asem dan ikan bandeng." Balasnya.
Mendengar jawaban itu seketika hatiku berkata,

Aduh, lauknya begitu lagi, dia kan tau aku tidak suka bandeng ditambah lagi ada sayur asem. Sudah tiga hari ini dia masak sayur asem, bosan! Lagipula, ia sedang dalam tahap belajar memasak. 
Teriakku dalam hati. Belum selesai aku mengeluh, tiba-tiba ia mengagetkanku.

"Mas mau makan sekalian? Biar aku ambilkan."

"Tidak.. tidak usah. Nanti biar aku ambil sendiri. Aku mau mandi dulu, gerah!" Balasku mengalihkan pembicaraan.

"Yasudah mandi dulu, sebentar aku ambilkan handuknya di lemari." Ucapnya lembut sambil tersenyum kearahku.

Aduh biyung! Senyumnya itu yang membuatku jatuh hati padanya. Manis nian, semanis arumanis yang biasa dijual di depan SD. Ingin hati memeluknya dan berlanjut ke tahap selanjutnya, tapi badanku bau. Aku balas tersenyum dan bergegas ke kamar mandi.
Kupanaskan water heater dan kuunyalakan shower yang memancur dari langit langit. Belum sempat membilas badan dengan air, istriku memanggil dari luar.

"Mas, ini handuknya!" Teriaknya dari balik pintu.
Aku mengambil gagang pintu lalu membukanya sedikit.

"Adek mau mandi sekalian?" rayuku.

"Tidak mas, aku sudah mandi tadi. Lagipula sebentar lagi aku mau arisan di rumah Bu Hindun." balasnya menolak.

"Yasudah aku mandi dulu." balasku kecewa. Ia hanya mengangguk lalu pergi.

Selesai mandi aku menuju kamar. Istriku terlihat sedang berdandan di depan meja riasnya. Aku menggodanya sedikit.

"Dek, nanti malam itu ya. Biasa."

"Iya mas, tapi sepulang adek arisan ya." balasnya meyakinkanku.

"Janji lho!" kataku sambil mengambil jari telingking.

"Iya."

Setelah berganti pakaian aku keluar kamar menuju ruang tamu untuk menonton televisi. Tak lama adek keluar dari kamar. Aku yang melihatnya seketika takjub.

"Masya Allah, istriku ini cantiknya macam bidadari saja! Tak main main cantiknya adek ini." Logat Batakku mulai keluar. Padahal aku orang Jawa asli.

"Hahaha.. Mas bisa saja. Bukannya setiap hari adek berdandan seperti ini, kenapa baru sekarang memuji?" balik ia bertanya.

"Kan malam ini mas ada maunya." ucapku sambil tertawa.

"Yasudah malam ini tidak jadi saja." balasnya menantang.

"Yah, jangan dong." rengekku seperti bayi.

"Iya iya, adek berangkat arisan dulu ya mas. Assalamualaikum." pamitnya.

"Oh iya di meja makan ada ubi rebus juga kalau mas mau habiskan saja, toh itu tinggal dua." lanjutnya.

"Waalaikumsalam." sisanya aku hanya mengangguk.

Ubi? Apa adek tak paham betul seleraku? Aku tidak suka ubi. Kata orang, itu bisa membuat kentut kita menjadi bau. Tapi kalau dipikir pikir kentut kan memang bau. Ahsudahlah aku malah melantur.
batinku dalam hati.

Adek sudah pergi. Perutku lapar, tapi tidak ada yang bisa aku makan. Bandeng aku tidak suka karena banyak durinya. Aku punya banyak pengalaman buruk dengan duri. Lagi sayur asem, sudah tiga hari aku memakannya. Ubi tentu saja tidak. Aku berjalan menuju dapur dan membuka lemari kayu atas dibelakang kompor.

Taraaaaaaa...... Taraaaaaa.... Hueeeeeee.....

Seolah ada cahaya yang keluar dari lemari. Kulihat beberapa tumpukan makanan diantara cahaya yang keluar. Mie Instant. Ini yang aku cari. Segera kuraih satu bungkus mie instant didalam lemari. Kuambil satu buah panci dari rak sebelahnya lalu kuiisi dengan air. 


Hari Penembakan 3

Cukup lama kami berlari kaki kanan gadis ini malah terkilir, mau tidak mau kita harus mencari tempat persembunyian. Untungnya didekat sini ada sebuah rumah kosong tak berpenghuni, jadi kami bisa bersembunyi disana sementara aku mengobati lukanya. Aku menyenderkan gadis itu ke sebuah papan. Ketika aku ingin membenarkan posisi senderannya, tak sengaja tanganku terpeleset dan malah membuat beberapa tumpukan kayu dibelakang terjatuh. Belum sempat aku bangun, terdengar suara langkah kaki masuk kedalam rumah. Degup jantungku kian meningkat. Tangan kiriku berusaha untuk menutup mulut gadis itu. Apa yang harus kulakukan? Apa ini akan berakhir?

Meoooonngggg..

Seekor kucing mendekatiku. Seketika lampu diatas kepalaku menyala. Kubuka kotak bekalku yang kubawa dari kosan, kulemparkan potongan ikan kearah persimpangan antar ruangan. Kucing itu segera berlari dan memakannya.
            
“Astaga, ternyata hanya seekor kucing. Kukira apa tadi.” Ia kemudian berlalu keluar.

“Kelihatannya sudah aman. Saatnya pergi sebelum dia menyadari kesalahanku yang melemparkan ikan goreng penuh.” Batinku.

Aku menggendongnya keluar melalu pintu samping.

Tak lama setelah keluar. Pria tadi baru sadar akan sebuah kejanggalan.
            
“Tunggu tunggu.. Didalam rumah kosong  yang sudah tak berpenghuni kenapa ada seekor kucing yang memakan ikan goreng utuh? Sialan aku tertipu!”

Laki laki itu kembali kedalam rumah kosong dan mendapati tidak ada siapa siapa didalam. 

Kemudian ia melihat sebuah pintu lain di dekat kucing tadi.
            
“Sial aku tidak bisa berlari dengan keadaan begini. Dan lagi, aku tidak tahu ini dimana dan akan kemana.” Batinku.

Didepan ada sebuah pertigaan yang cukup ramai kendaraan, mungkin disana ada bantuan. Keluar dari gang sempit tadi aku menemukan daerah yang tidak asing. Daerah sekitar kampus fakultas kedokteran. Kebetulan sekali didepan ada angkot.

Hari Penembakan 2

Drap.. Drap.. Drap

Suara langkah kaki terdengar jelas disamping kosan. Aku yang berniat berangkat ke kampus pagi itu mendadak terdiam di depan pintu gerbang. Suaranya kian jelas, tidak salah lagi sumber suara mulai mendekat. Dalam hitungan detik seorang wanita cantik lewat di depanku. Ia mendorongku lalu masuk kedalam kosan dan bersembunyi dibalik tembok persis di sampingku. Belum sempat aku menjejalnya dengan berbagai pertanyaan yang membuatku bingung, seorang pria datang.

“Permisi, apa kau melihat seorang perempuan berambut panjang, memakai baju almamater  dan masker lewat sini?” Ucap lelaki itu bertanya.

Aku bingung harus menjawab apa. Aku sedikit melirik kearah gadis itu.Matanya berkedip kedip, kepalanya menggeleng, dan kedua tangannya menyatu didepan dada , seolah ingin berkata tolong aku!
“Ehmm.. Ohh.. Wanita itu! Dia baru saja lewat sini. Dia berlari kearah sana.”  Jariku menunjuk ke arah jalan disebelah kiriku

“Terima kasih banyak mas.” Balasnya singkat, lalu berlari menjauh.


Aku memberikan tanda pada gadis itu bahwa seseorang yang mengejarnya telah pergi. Gadis itu bangun dan menyalamiku. Lagi lagi, belum sempat aku menanyakan hal yang mengganggu kepalaku dia sudah berniat untuk pergi. 

Sayangnya bahunya menabrak pintu gerbang yang membuatnya jatuh. Laki laki yang berlalu tadi sontak menoleh ke belakang. Aku yang melihatnya segera menarik tangan gadis itu dan mengajaknya kabur tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Senin, 23 Oktober 2017

PROLOG

Halo semua nama gue Kuncoro. Kuliah di jurusan Teknik Arsitektur di sebuah Universitas Negeri.
Gue punya pacar namanya Franda. Dia itu cantik, pinter dan nge-hits banget di kampus.
Gimana cara gue dapetin dia? Pantengin aja diary gue boy/sis.

Oh iya btw diary gue ini isinya bukan tentang cara dapetin pacar gue ini tapi tentang keluh kesah gue sebagai cowok yang selalu salah dimata cewek gue.
Telat jemput dimarahin, kalo kecepetan nunggu dandannya lama. Bahkan kalo gue ngerjain skripsi gue, bahkan naik haji dulu masih sempat itu buat nungguin dia dandan.
Setiap jalan juga gue yang harus bayarin, dan kembaliannya diembat sama doi. 
Dan masih banyak kesengsaraan gue yang lainnya.

Gue pengen banget keluar dari penjara ini. Sampai dua sohib gue selalu kasih saran buat lepas dari doi. Bukannya lepas gue malah tambah tersiksa.
Ikutin terus ya! Ajak temen-temen kalian juga buat mampir.

Hari Penembakan

Malam ini aku sibuk, bukan sibuk mengerjakan tugas kuliah atau mengikuti kegiatan di kampus melainkan sibuk membuat puisi. Yah, memang sih ini pertama kalinya aku membuat puisi tapi setidaknya aku yakin bisa membuatnya. Puisi ini nantinya akan kupersembahkan kepada orang yg sangat spesial. Orang itu sudah lama ada di hatiku, kurang lebih sudah dua puluh empat jam. Wajahnya yang segitiga sama kaki, matanya yang bulat, rambutnya yang panjang terurai membuatku jatuh hati. Namanya Franda, gadis paling populer di Jurusan Arsitektur. Kudengar dari Erik temanku, katanya dia baru saja putus dengan pacarnya. Ini adalah saat yang sempurna untuk menembaknya.

"Merpati terbang tinggi, angin pagi berhembus perlahan." Gayaku membaca puisi menirukan Taufik Ismail.

"Untuk kamu yang slalu dihati, ketahuilah cintaku masih bertahan." Lanjutku sambil menyengir. Belum selesai menyengir, Erik langsung memukul kepalaku."

PLAAKKK...

"Itu pantun bodoh! Bukan puisi! Dasar bedebah!" Makinya padaku.

"Yaelah maklum kan gue bukan sastrawan, gue bukan pujangga, gue juga bukan wonderwomanmu." Alibiku.

"Puisi bukan begitulah. Sini gue ajarin." Dia meraih pensil dan bukuku. Aku hanya menonton. Bocah ini terlihat jago menggoreskan pensil.

"Nih gue bacain. Kata pepatah cinta itu buta. Namun aku tak pernah percaya. Bukan cinta yang membuatnya buta. Nafsulah yang menyesatkannya. Kata orang bulan itu indah. Namun aku tak pernah percaya. Bukan bulan yang membuat malam ini indah. Senyummulah yang memancarkannya." Ucap Erik membaca tulisannya.

"Woaaahhhh.. Ajari saya mastah.. Biarkan aku jadi muridmu." Rengekku.

"Gabisa, hari ini gue ada acara. Lu buat puisi sendiri. Goodluck Cir, gue pulang dulu." Ucapnya sambil meninggalkan kosan.

Aku yang bingung terpaksa menulis sendiri. Seadanya.

Esoknya puisi yang kutulis sudah jadi. Pidato yang akan kusampaikan dihadapan Franda pun sudah siap. Tinggal eksekusinya di sore hari nanti. Temanku Rein bertugas mengikuti semua kegiatan Franda hari ini. Dan Erik bertugas mengarahkan Franda ketempat yang sudah kita sepakati.

Sore hari tiba. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi seluruh bagian tubuh. Aku tidak fokus. Erik mengirim pesan singkat. Katanya Franda sudah dekat dengan lokasi. Aku mencium baunya. Dia tepat dibelakangku. Dengan perasaan nervous yang luar biasa aku membalikkan badanku dan berlutut sembari menyodorkan beberapa bunga. Aku yang nervous dan tak tau harus apa langsung membuka suara.

"Assalamualaikum." Kataku.

"Eh, maksudnya bungaku. Bintang memang tak seterang rembulan. Kadang muncul kadang juga libur. Abang tukang bakso memang menjual ayam. Sabun di kamar mandi siapa yang habiskan. Jika itu kamu tolong katakan." Aku malah membaca puisinya dan lupa mengatakan pidatonya. 

Aku yang malu tidak berani membuka mata sampai akhirnya dia menggenggam bahuku dan membantuku berdiri. Perlahan aku memberanikan diri membuka mata. Aku shock. Didepanku bukan Franda Melainkan Bu Erlina dosen killer di jurusanku.

"Kuncoro, nilai kamu di mata kuliah saya itu selalu D tapi kenapa kamu masih sempat melakukan hal bodoh seperti ini. Saya tau kamu bodoh tapi saya tidak menyangka kalau otak kamu bahkan terjun bebas ke dasar jurang." Celoteh ibu Erlina memarahiku.

Kulihat semua orang mentertawaiku. Termasuk Franda yang berada tidak jauh di belakang Bu Erlina. Aku sangat malu sampai tak bisa berkata apa apa. Erik yang ada disebelah Franda menepok jidatnya.

"Dan lagi puisi kamu itu sampah! Lebih baik kamu belajar yang giat agar tahun depan ibu tidak bertemu lagi denganmu." Lanjutnya sambil berlalu menjauh.

Aku yang terlanjur malu segera kabur dengan seribu langkah. Rasanya aku mau mati saja hari ini. Tapi aku belum menyerah. Besok akan kucoba lagi.



(Episode 1)

Gara-Gara Indomie

Hari ini aku pulang malam, seharian aku mengunjungi kota Depok dan Tangerang untuk menghadiri Seminar Kepenulisan. Untungnya, sampai rumah ...